Untuk sebuah nama, rindu tak pernah pudar. Terus mengalir dalam nadi, menjejakkan detak tersembunyi.
Untuk sayatan ringan, maaf tak pernah pergi. Terus menanti untuk kau hampiri
Menggapai jemari yang nyata pasti.
Menggapai jemari yang nyata pasti.
Segala bait kata yang tersusun rapi telah ternoda.
Segala alunan nada yang siap terhembus hanya debu di telinga.
Wajar jika banyak hal terikat mati diatas kesahajaan asa.
Segala alunan nada yang siap terhembus hanya debu di telinga.
Wajar jika banyak hal terikat mati diatas kesahajaan asa.
Maka, lipatan demi lipatan rasa yang pernah kubuat akan kujadikan sirna
Bersama kayu dipan yang tergelap dalam kamar. Maka, pucuk-pucuk rindu yang tak pernah pudar akan kupautkan
Bersama rantai besi yang terbekap udara.
Bersama kayu dipan yang tergelap dalam kamar. Maka, pucuk-pucuk rindu yang tak pernah pudar akan kupautkan
Bersama rantai besi yang terbekap udara.
Takkan lagi kupeduli, apakah itu cinta ataukah justru benci.
Semua hanyalah mendung berkepanjangan yang menanti badai.
Walau senja tahu menahu tentang filosofi hujan yang rindu akan waktunya, aku hanyalah hampa.
Menatap ujung yang gelap, merangkai lagu tanpa nada.
Semua hanyalah mendung berkepanjangan yang menanti badai.
Walau senja tahu menahu tentang filosofi hujan yang rindu akan waktunya, aku hanyalah hampa.
Menatap ujung yang gelap, merangkai lagu tanpa nada.
Mencinta dan merindu, tidakkah itu paduan yang indah? Disaat yang bersamaan menggoreskan mata jarum di lempengan hati.
Sedang membenci adalah fenotip pertama, yang jika disilangkan sesamanya hanya semakin memperdalam luka.
Sedang membenci adalah fenotip pertama, yang jika disilangkan sesamanya hanya semakin memperdalam luka.
- Azhida -

0 komentar:
Post a Comment