sejak dulu, aku paling trauma sama yang namanya 'meninggal'. denger kata itu, aku dah merinding. apalagi liat dan nyaksiin sendiri orang yang sakaratul maut.. pastinya lebih dari merinding. tapi, buat tragedi kali ini, terasa beda. rasa yang memang belum pernah aku rasain sepanjang hidupku. kejadian yang membuatku sesak. kejadian yang membuatku terpaku tak percaya bahwa ini akan terjadi. sebuah tragedi di kamis pagi.
Kamis, 07 Februari 2013
pagi itu, anak kamar 3 asrama Fathimah masih bercanda tawa bersama. meningat kejadian semalam yang membuat kita tertawa. sambil bercanda, kita melakukan aktifitas harian kita seperti biasa. salah satunya, piket harian.
aku yang masih membereskan kasurku pagi itu, rifdah yang sedang membaca buku biologi , yang karna hari ini kelas 8E akan menghadapi soal-soal dari Ust. Anas. serta sekar yang masih duduk bermalas-malasan di kasur.
tiba- tiba, dara pun datang.
" dara, kamu mau liat jadwal piket? " tanya rifdah tiba-tiba. dara pun mengangguk.
" aku minta tolong liatin ya, " lanjut rifdah.
" aku juga ya dar, " ucap aku dan sekar bersamaan.
" oke, " jawab dara singkat lalu beranjak pergi. beberapa menit kemudian dara pun datang lalu memberi tahu kami jadwal piket kami hari ini.
kurang lebih pukul 06.50, kami bersiap-bersiap memakai jilbab. di kamar saat itu, tinggal tersisa aku, sekar, dara, rifdah, dan juga rika.saat aku sedang bercermin, dara terduduk di depan lemarinya. saat itu, kami sedang bercanda dan tertawa. tiba- tiba, dara mengeluh.
" aduh, perutku sakit " keluhnya sambil memegangi perutnya.
" kenapa dar? faktor haid mungkin " ucapku sedikit cuek sambil membenahi jilbab yang ku pakai.
"hari keberapa dar? " ucap sekar kemudian.
" hari ke delapan " jawabnya
" ah, masa' hari kedelapan sakit sih? " sambung rika sedikit jutek.
beberapa menit kemudian, penghuni kamar semakin berkurang. di dalam kamar, hanya tersisa aku dan dara. tiba- tiba saat dara sedang minum air putih..
" aku gak kuat! azda.. aku gak kuat azda! " ucapnya sambil nafas sesak. aku yang sedang akan memasukkan buku ke dalam tas pun ikut panik.
" dar, kamu kenapa dar???! " teriakku mendekati dara. Asma! pikirku, segera aku mencari obat asma dara yang biasa di pakainya. ku cari di rak dar, tidak ada. aku semakin panik. tetapi, dara yang masih bertahan pun mengambil obatnya sendiri di tas merahnya. poof..! keadaan semakin tenang. sekar yang datang dari lorong depan kamr langsung mengambil botol minum dara untuk diisikan air panas sesuai permintaan dara. tetapi, tiba- tiba, dara kembali sesak. aku mencoba untuk menyemprotkan obat itu lagi. sambil menenangkan dara.
terdengarlah suara teriakan ulfa dari luar " azhidaa! ayo kita berangkat"
" iya, ul. tunggu sebentar.." jawabku tak ingin memberi tahu ulfa tapi berharap agar ulfa datang ke kamarku. dan doa ku pun terkabul, ulfa menghampiriku di kamar. dia kaget melihat keadaan dara dan segera membantu ku menolong dara. karena kita merasa keadaan dara tidak segera membaik, aku berteriak memanggil ust dewi yang saat itu sedang di halaman bersama teman- teman yang lain. " ustadzaah!! ustdzah kesini ust,. cepet.. tolongin aku ust.. dara asmanya kambuh!!" teriakku panik.
dan ketika ustadzah datang, aku dan ulfa segera membuatkan dara teh panas dan meminumkannya. tapi, kita semakin merasa keadaan dara tidak membaik. malah semakin memburuk. akhirnya, ustadzah memutuskan untuk membawa dara ke rumah sakit. tapi, ustadzah berpikir kalau memakai motor, dara nya kasihan. akhirnya sekar di suruh untuk memanggilkan becak. dan saat itu di samping dara hanya ada aku dan ulfa. muka dara semakin pucat. bibirnya sudah pucat biru ungu. aku dan ulfa semakin panik. kita semprotkan lagi obatnya dan sedikit demi sedikit meminumkan teh panasnya serta mengipasinya. saat itu, mata dara sudah buka tutup. aku pun saking paniknya berkata, " jujur, aku belum pernah liat orang asma sampai kayak gini, ul !!"
" sama az, aku juga. perasaan aku asma gak sampek kayak gini kok!" jawab ulfa tidak kalah panik dariku. lagi-lagi, keadaan dara semakin memburuk. dara sudah seperti orang pingsan saja. kita di situ masih mencoba untuk membantunya. kita bersama beristighfar terus. lalu,
" dara, kalo kamu masih sadar tolong jawab aku dar,," ulfa meyakinkan dara. aku hanya bisa terpaku diam menatap dara sambil terus menyemprotkan obatnya. tiba- tiba, terdengar suara " GROOK..! GROK!" yang terdengar dari kerongkongan dara. kita semakin panik.aku pun terus menyemprotkan obat asmanya sambil terus beristighfar. mulut dara bergerak kecil seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi sangat sulit untuknya. dan kita sadar, dara mencoba untuk mengikuti kita beristighfar.
tiba- tiba, dara yang terduduk lemah di pinggir ranjang sambil di pegangin ulfa pun merosot jatuh ke lantai. tangannya yang lemas menyampar gelas isi teh panasnya yang masih banyak. aku pun segera mengambil tisu dan membereskan tumpahan teh tersebut. ulfa terus memberi leher dan dadanya minyak kayu putih dan aku juga tetap berusaha menyemprotkan obatnya k dalam mulutnya, tapi tidak terhirup olehnya dan kembali keluar bercampur dengan udara sekitar. kita berusaha untuk mendudukkan kembali dara di pinggir ranjang. berat. dara sungguh lebih berat. badannya lemas. akhirnya, ustadzah pun datang.
" ust, kalo nunggu becak kayaknya kelamaan nih. udah ust, pake motor aja" ucapku tegang dan panik
" ya udah kalo gitu ustadzah ngeluarin motor dulu ya" jawab ust dewi seraya pergi. lalu, dara pun dia nagkat oleh beberapa anak yang belum berangkat menuju motor di luar pagar. saat sudah dia atas motor, becak yang di panggil pun datang. segera, dara di angkat lagi dan di pindahkan ke becak. dara di temani ulfa dan ustadzah naik becak. sedangkan aku di temani qoni menyusul menggunakan motor. sesampainya di rumah sakit, dara segera di larikan ke UGD. sebelum dara di bawa masuk UGD, ku pegang kakinya. dingin. dingiin sekali. bertahanlah dara. bertahanlah,,
dokter pun menyuruh kita untuk ke meja pendaftaran terlebih daluhu. setelah mendaftar, aku, ulfa, dan qoni pun menunggu di kursi tunggu sementara ustadzah dewi menuju ruang UGD lagi. tunggu.belum lama, ulfa pun di panggil ustadzah dari ruang UGD untuk ikut serta. sementara aku dan qoni masih menunggu di kursi tkita terus berdo'a.. terus,, terus,, mendoakan keselamatan dan kebaikan bagi dara. mendoakan sambil meminta maaf atas kesalahanku yang telah kuperbuat padanya selama ini..
belum lama, datanglah seorang ibu-ibu gendut menghampiri kami
" dek, yang sakit tadi temennya ya" tanyanya lembut
" iya bu " jawab kami seraya tersenyum padanya
" oh, sakit apa dek? panas kah?" tanyanya lagi
" oh, bukan bu. itu asma. " jawabku lagi
" ooh, kelas berapa sih dek? "
" kelas 2 SMP bu"
" itu tadi sakitnya waktu dimana? di rumah atau di sekolah?"
" enggak bu, kami ini asrama. dia sakit sejak di asrama"
" oh, asrama mana?"
" asrama Abu Bakar bu"
" oh, situ ya, ya udah, sabar aja ya dek "
" iya bu, makasih" jawabku masih tersenyum.
aku menengok jam tanganku. jam 07.20 , udah sekitar 5 menitan kita menunggu. aku udah gak betah. akhirnya aku ajak qoni untuk masuk ke ruang UGD.
" ayok qon, mending sekarang kita ke sana aja" ajakku sambil beranjak dari kursi
" yah, az.. tapi kan sama dokternya tadi gak boleh" qoni pun mulai terlihat bimbang
" halah, udahlah. begitu aja di dengerin. mau ikut gak? kalo enggak ya udah aku aja" aku mulai mengambil langkah menuju UGD. qoni pun mengikuti dari belakang. ku buka sedikit pintu UGD, ku dapati ustadzah dewi yang sedang menangis di pangkuan ulfa. aku pun kaget. kututup pintu UGD sambil melotot heran tak percaya dan berpikiran macam- macam ke qoni. ku buka kembali pintunya dan segera ku berlari menuju tempat mereka duduk. saat itu, terlihat ulfa yang sedang menelepon ustadz sukardi dan berkata bahwa " daranya dah gak ada ust" JLEB!! dadaku serasa sesek! aku pun jatuh terduduk d samping ust dewi sambil menatap ulfa tak percaya. ulfa pun mematikan telpon.
"ulfa, kamu bercanda kan?" aku mulai merasakan mataku panas. dadaku sesak.
" aku beneran az, aku gak bohong " jawabnya sambil menangis. dan kita pun menangis bersama. ulfa lalu memelukku. aku hanya bisa menangis sambil gemetaran dan menutupi mulutku. aku masih gak percaya!
tapi, ini lah takdirnya. aku harus bersyukur aku masih termasuk orang yang ada di sampingnya saat dia sakit. aku masih bisa menolongnya pada menit- menit terakhir hidupnya. Allah mengutusku untuk menemaninya sebelum dara pergi :' Allah masih baik sama aku. Allah masih sayang sama aku. lagi- lagi, Allah memberi ku kesempatan berada di sampingnya. Dan, Allah pun benar" sudah kangeeen banget sama dara :') aku yakin itu. Subhanallah.
Subhanallah.. Subhanallah.. Dara seorang syuhada. dia mati syahid. syahid. syahid. semoga kau tenang dan bahagia di sana, dara, kawanku :' kami di sini kan selalu mengenang segala amal- amal kebaikanmu :') kami di sini akan selalu mendoakan kebaikan untukmu :') good bye dara~ perjuanganmu di dunia sudah berakhir dengan damai. Aku bersyukur ada di sampingmu saat kau sakaratul maut :')